Budaya Luhur Sebagai Benteng Melawan Narkoba

15-08-2016 15:50:14
Admin Pencegahan
0 Comments

Oleh: Dian Ridwan Munawar

Permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba masih menjadi masalah krusial hingga saat ini. Korbannya semakin banyak serta menyasar semua kalangan.

Penyalahgunaan  narkotika itu terbagi ke dalam 2 (dua) kategori pertama coba pakai adalah mereka yang menyalahgunakan narkoba namun masih dalam taraf rekreasional, dan belum mencapai adiksi (kecanduan), Sedangkan kategori kedua teratur pakai adalah penyalahgunaan yang telah sampai pada tahap ketergantungan (adiksi).

Dilihat dari karakteristik zat dan efeknya terhadap pengguna, narkoba terbagi ke dalam tiga jenis yaitu:

Stimulan (bersifat merangsang gerak) yaitu Penyalahguna zat stimulan biasanya pribadi yang bertipe ambisius, workaholic (gila kerja),
Depresan (penenang) yaitu Penyalahguna narkoba tipe depresan adalah pribadi yang mengalami gangguan kecemasan, depresif, dan tertutup.
Halusinogen (merangsang daya khayal, imajinasi) yaitu Penyalahguna zat halusinogen biasanya pribadi yang terlalu kreatif, idealistik, menyukai kebebasan, individualistik/ego-sentris dan susah berdamai dengan kenyataan.
Ragam jenis narkoba yang disalahgunakan itu sesungguhnya menunjukkan karakteristik kepribadian/kejiwaan para penyalahgunanya.

Hal di atas menunjukkan bahwasannya tindakan penyalahgunaan narkoba sesungguhnya merupakan sebuah persoalan psikologis seorang individu yang tidak terselesaikan, di samping juga sebagai sebuah cerminan dari kompleksitas problematika sosial yang melatar belakanginya. Hal ini tentunya mengundang keprihatinan kita semua; apa sesungguhnya yang terjadi dengan masyarakat kita? apa yang terjadi pada diri seorang individu sesungguhnya tidak terlepas dari problematika sosial di belakangnya.

Untuk memahami hal ini secara komprehensif, kita harus melihat persoalan narkoba ini sebagai sesuatu tidak bisa dilepaskan dari dimensi historisitasnya. Kondisi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif) yang kini mencapai status “darurat” di negeri kita dewasa ini, nampaknya adalah sebuah perulangan sejarah yang pernah terjadi di abad-19 lampau, yakni maraknya peredaran dan penggunaan opium di pulau Jawa. Awalnya dimulai dengan masuknya opium/candu sebagai sebuah komoditas non-medis ke tengah kehidupan masyarakat kita sejak awal tahun 1802 oleh bandar-bandar candu dari berbagai negara yang kemudian dilegalisasi oleh pemerintah kolonial. Disebut komoditas non-medis, karena candu tidak digunakan untuk kepentingan pengobatan sebagaimana seharusnya, melainkan sebagai komoditas gaya hidup (pleasure commodity).

Keuntungan yang diambil oleh pihak kolonial dari hal ini sangatlah jelas; pertama, keuntungan ekonomi yang sangat tinggi dari hasil penjualan opium—yang bahkan jauh melampaui keuntungan dari hasil ekploitasi rempah-rempah—bahkan disebutkan bahwa hanya dengan pajak dari satu bandar candu, pemerintah kolonial sanggup untuk membayar semua buruh/pekerja di seluruh Hindia Belanda. Kedua, opium efektif sebagai suatu alat politik kolonial. Seiring dengan waktu berjalan, peredaran opium yang dilegalisasi oleh pemerintah kolonial ini kemudian menjamur dan diserap sebagai gaya hidup hampir setiap lapisan masyarakat. Maraknya penyalahgunaan opium/candu yang lazim dikenal dengan istilah; “nyete”, “nyeret”, “madat”, saat itu telah berhasil mengkontaminasi nilai-nilai keberbudayaan yang luhur dalam struktur kehidupan sosial bangsa kita. Dengan madat/nyandu sebagai gaya hidup, sumberdaya manusia kita dilemahkan dan direndahkan, sehingga cengkraman penguasaan kolonialisme bisa semakin ajeg.

Pandangan historiografis di atas kiranya masih relevan sebagai kerangka acuan untuk melihat persoalan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dewasa ini. Peredaran gelap narkoba saat ini jangan kita lihat semata sebagai sebuah bisnis gelap yang terlarang secara hukum, tetapi lebih dari itu, harus kita sadari dengan sebenarnya bahwa peredaran gelap narkoba adalah sebuah kejahatan politik yang serius.  Peredaran gelap narkoba adalah sebuah kejahatan sistematis, terstruktur, terancana, terorganisir dengan canggih secara lintas-negara yang bertujuan untuk melemahkan dan menghancurkan kita sebagai sebuah kesatuan masyarakat.

Benteng Budaya dan Penjajahan Gaya Hidup

Ada berbagai cara untuk menjajah dan menguasai suatu masyarakat; yaitu penjajahan dengan ekonomi, penjajahan dengan kuasa pengetahuan, dan penguasaan dengan gaya hidup. Peredaran gelap narkoba lebih cenderung pada jenis penjajahan yang ketiga. Dalam titik inilah persoalan narkoba di Indonesia harus dibaca secara sosiologis; ada keterkaitan erat antara penyalahgunaan narkoba dengan gaya hidup hedonistik. Hedonisme dan konsumerisme yang meletakkan nilai kepuasan dan kesenangan jasmaniah sebagai nilai tertinggi. Dalam kehidupan masyarakat atau komunitas sosial yang secara sadar atau tak-sadar menganut nilai hedonisme dan konsumerisme, apapun yang bisa mendatangkan kenikmatan dan kesenangan jasmaniah akan diafirmasi dalam kesadaran dan perilaku, termasuk juga penyalahgunaan narkoba.

Dewasa ini, sistem nilai dan gaya hidup hedonistik semakin menggurita; lewat berbagai media informasi, publik dicekoki doktrin-doktrin hedonisme yang terselubung lewat citraan-citraan yang menggiring mereka pada orientasi buta akan kenikmatan, untuk tunduk dan takluk di bawah kuasa kenikmatan. Apabila orientasi buta terhadap kenikmatan ini sudah merasuk ke dalam watak dan kesadaran, maka tindakan penyalahgunaan narkoba akan dilakukan dengan tanpa segan dan memperdulikan berbagai dampak negatif dan resiko yang ditimbulkannya.

Karena itu, dapat kesimpulkan bahwa semakin tersebarluasnya nilai-nilai hidup hedonisme dan konsumerisme, maka tingkat penyalahgunaan narkoba pun akan semakin bertambah, atau paling tidak akan selalu ada dalam jumlah yang signifikan.  

Dimensi sosiologis lain dari persoalan penyalahgunaan narkoba adalah; ada keterkaitan yang rumit antara bagaimana watak masyarakat secara umum dengan persoalan psikologis para pengguna, dalam hal ini adalah motivasi tak sadar para pengguna itu untuk memakai narkoba seperti; rendahnya konsep diri, kacaunya pegangan nilai-nilai dalam hidup, latar belakang pola asuh yang bermasalah, kehendak untuk aktualisasi yang disorientatif, dan seterusnya.

Memang akan sedikit susah dijabarkan. Tetapi nampak betul bahwa dalam masyarakat yang pola dan karakter hidupnya sudah serba individualistis, fragmentaris, dan apatis, hal-hal yang negatif mudah terjadi. Semakin bermasalah kehidupan sosial, maka penyimpangan dan perilaku negatif akan semakin rentan terjadi. Di balik tindakan penyalahgunaan narkoba, ada yang harus dipertanyakan dalam jejaring hubungan antar pribadi dan sosial kita, terutama masalah-masalah di sekitar pola asuh orangtua terhadap subjek penyalahguna.  

Status “Darurat Narkoba” bagi Indonesia, nampaknya bukan saja menjadi gentra bagi para keluarga pengguna narkoba untuk berintrospeksi, tetapi masing-masing kita sebagai bagian dari masyarakat pun harus berintrospeksi dan sadar dengan satu hal; “niatan politis” dari pengedaran narkoba tidak lain adalah untuk merusak generasi muda bangsa kita.

Kembali kita harus belajar dari sejarah; lepasnya masyarakat Nusantara dari kebiasaan menyalahgunakan candu adalah karena masyarakat menemukan nilai hidup yang lebih tinggi; nasionalisme, bangkitnya rasa harga diri sebagai pribumi dan kehendak untuk memperjuangkan kemerdekaan dari tangan penjajahan kolonial. Menemukan kebermaknaan hidup yang lebih tinggi, yang sejati, itulah jawaban untuk melepaskan diri dari jeratan cakar-cakar kesemuan dan kedangkalan hidup. Dan dalam titik dan konteks saat ini, nilai-nilai budaya luhur yang kita miliki, yang begitu dekat dengan jati diri kita, terbentang lapang sebagai jalan untuk membangun kehidupan yang merdeka dari penjajahan gaya hidup.

Masyarakat yang kuat nilai budaya dan identitasnya, tidak akan mudah dirusak dan dijajah oleh peredaran gelap narkoba.

#stopnarkoba

*) Penulis Penyuluh Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Barat

Badan Narkotika Nasional Regional Kabupaten Jawa Barat



SISTEM INFORMASI REHABILITASI TERPADU JAWA BARAT